Minggu, 04 Agustus 2013

Mustika Art Blora Unjuk Muka HUT Blora

Beraneka Motif Batik Blora pada Kirab HUT Blora
INFOKU, BLORA- Para perajin batik tulis khas Blora, sejak tiga bulan terakhir kebanjiran order sehingga di beberapa rumah produksi perajin kehabisan kain batik tulis yang siap jual.
Sejumlah masyarakat yang ingin membeli langsung, harus rela menunggu sekitar satu bulan.
Pasalnya, sejumlah perajin yang ada saat ini fokus menyelesaikan pesanan dari dinas/instansi yang akan dipakai untuk hari jadi Kabupaten Blora.
"Semuanya menyelesaikan pesanan batik tulis dari dinas dan kantor sebab hari jadi nanti semua pegawai di Pemkab Blora akan memakai batik," kata Anik Pemilik rumah produksi Batik Jati Mustika art gallery , Jumat lalu.
Menurutnya semua perajin yang ada di Blora yang sudah masuk cluster batik kebagian semua pesanan, sehingga rata-rata setiap perajin harus membuat batik tulis di satu atau dua instansi.
"Kami mengerjakan lebih dari 50 potong untuk kirab hari jadi, yang harus kami kerjakan dalam waktu yang singkat, Belum lagi pesanan dari kota besar di Indonesia. Maka anda lihat sendiri betapa sibuknya kami ," jelasnya.
Karena harus batik tulis yang harus dibuat sendiri dengan tangan maka pengerjaannya membutuhkan waktu lama.
Selain itu, masing-masing dinas dan instansi juga memilih warna dan motif sendiri-sendiri tetapi tetap bercirikan Blora, sehingga untuk membuat dan mengambarkannya juga butuh waktu yang lama.(Endah/Agung)
Foto :
PADAT: Karena banyaknya order Batik untuk kirab HUT Blora, teras showroom Mustika Art Galery Blora digunakan juga untuk membatik kain karena tempat lainnya sudah padat.
Web Original >>>Klik >>>  Disini

Selasa, 23 Juli 2013

Sejarah Batik Indonesia



Sekilas Sejarah Batik Nusantara

Siapa yang tidak cinta dengan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO ini?, Penulis tebak pasti anda semua cinta batik,kan?


Penulis cinta batik karena ukiran dan seninya itu loh.. luar biasa! ukiran tangan yang dibuat oleh para pengrajin batik yang memiliki daya kreatifitas yang tinggi, yang tidak semua orang bisa.



Tapi dibalik itu semua, tahu gak sih sejarah batik nusantara itu tercipta sejak kapan?, Mengaku cinta batik tapi tidak tahu sejarah batik nusantara tentu bikin kita malu,kan?, Untuk itu penulis ingin menuangkan ide untuk membahas sekilas sejarah batik nusantara untuk anda semua yang cinta batik.

Baiklah.. siapkan catatan kecil,ya untuk menulis ringkasan sejarah batik nusatara ini.


Sejarah batik nusantara ini sudah tercipta sebelum ada kata 'INDONESIA'. Budaya teknik cetak batik tutup celup dengan menggunakan malam dari sarang lebah diatas kain sebenarnya tidak eksklusif terdapat di Indonesia, tetapi justru melanglang buana dari mesir hingga kawasan Timur Tengah lainnya.


Teknik tersebut juga dapat dijumpai di Turki, India, China, Jepang dan Afrika. Akan tetapi tidak ada satu tempatpun di dunia ini yang mengembangkan teknologi motif batik yang sedemikian kompleks dan kaya seperti di Indonesia khususnya di Jawa.

Teori mengenai batik ini telah menjadi perbincangan yang cukup booming. Salah satunya dengan salah seorang ilmuwan Belanda yang meneliti soal batik ini, yakni G.P. Rouffaer telah mengatakan bahwa teknik ini dibawa pertama kali dari daerah India Selatan. lain pendapat dengan J.L.A Brandes yang mengatakan bahwa sebenarnya sebelum ada pengaruh India datang ke Indonesia, Nusantara telah memiliki 10 unsur kebudayaan asli yaitu, wayang, gamelan, puisi, pengecoran logam mata uang, pelayaran, ilmu falak, budidaya padi, irigasi, pemerintahan, serta batik.

Sehigga teori-teori tersebut menolak mentah-mentah bahwa batik berasal dari India Selatan.

Orang boleh saja berpendapat kok bahkan ada juga yang berpendapat lain mengenai sejarah batik nusantara ini, yakni sejarah batik di Indonesia tumbuh dan berkembang semenjak adanya impor kain tenun dari India pada abad ke-17. Kain Eropa juga masuk ke Indonesia pada awal tahun 1815. Tetapi teori ini tetap saja ditepis selang bergulirnya waktu. Jika kita mereview ulang mengenai motif-motif serupa motif batik sudah kita temukan di beberapa ukiran-ukiran yang ada pada relief-relief candi Prambanan dan juga Candi Borobudur. Artinya, bangunan-bangunan yang sudah berdiri semenjak abad ke-8 ini sudah mempengaruhi motif batik yang ada hingga sekarang.

Beberapa sejarah yang telah ditinjau dan diterbitkan oleh salah seorang yang bernama Bataviaasche Genootchap Van Kunsten Wetwnschapen tahun 1912 dan bernama kitab Centini menyebutkan, pada jaman Pakubuwono V, sudah ada istilah batik dan pada waktu itu sudah terdapat motif-motif halus seperti gringsing, kawung, parang rusak dan lain-lain.


Dalam kitab ini juga disebutkan bahwa canting sudah digunakan pada saat itu. Dalam kesusastraan kuno dan pertengahan, sempat ditemukan pembahasan soal nyerat atau nitik yang diduga merupakan teknik menghias kain menggunakan malam. Kemudian, setelah keraton Kartasuro pindah ke Surakarta, muncullah istilah Batik dari Jarwo Dosok. Kata ini berasal dari gabungan kata “ngembat” dan “titik” yang berarti membuat titik.

Dari semua hal yang telah ditinjau, maka literatur ini cukup terlihat bahwa teknik merintang warna dengan menggunakan malam ini memang sangat berkembang dan maju di tanah Jawa, terutama Jawa Tengah. Perkara kemudian seluruh daerah di Nusantara memiliki batik sudah jelas akibat proses bergeraknya manusia dan bergeraknya kebudayaan yang ada bersama manusia-manusia tersebut.

Mulailah mengalami perkembangan yang cukup pesat melalui teknik- teknik tersebut karena seiring teknik tersebut telah mengikuti proses asimilasi budaya orang-orangnya. Dan inilah yang kemudian membuat batik menjadi begitu kaya dan beragam.

Dari timur ke barat, dari utara ke selatan, hampir semua daerah yang ada di pulau Jawa memiliki ukiran motif batik yang sebagai salah satu ciri khas sendiri-sendiri.  Bicara batik Jogja dan Solo, maka kita akan bicara sedikit tentang sejarah kerajaan Mataram Islam. Sebuah buntut dari kedigdayaan kerajaan Nusantara yang begitu berjaya pada masanya.

Melalui proses yang sangat pelik dan melibatkan ratusan kali pemberontakan akhirnya kerajaaan Mataram Islam dipecah menjadi dua melalui perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.

Perjanjian yang sedikit banyak melibatkan campur tangan VOC ini, membagi wilayah Mataram Islam menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Dimana Pakubuwono III menjadi rajanya dan Pangeran Mangkubumi menjadi Raja di wilayah yang baru dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Intinya, pemisahan wilayah ini, kemudian membuat berbagai macam perubahan dalam budaya di kedua wilayah tersebut.

Kasunanan Surakarta, yang merupakan awal dari kerajaan Mataram Islam mempertahankan semua jenis kebudayaan yang mereka miliki. Mulai dari ritual, tarian sampai ke batik. Sedangkan Kesultanan Ngayogyakarto Hadiningrat cenderung membuat berbagai macam tradisi baru, namun tetap berakar pada tradisi kerajaan Mataram Islam. Termasuk juga kain batiknya.

Jika kita simpulkan sedikita banyaknya antara Kasunanan Surakarta dengan Kesultanan Ngayogyakarta bahwa budaya pada Kasunanan Surakarta lebih konvensional dibandingkan Kesultanan Ngayogyakarto Hadiningrat yang cenderung progresif. Ini terlihat misalnya pada tarian di Yogyakarta yang lebih dinamis, dibandingkan posisi berdiri yang lebih tegak dibandingkan Surakarta.

Untuk batik, Sultan Hamengkubuwono I dari Yogya, memilih latar putih sebagai warna dasar kain batiknya. Sedangkan Susuhunan Pakubuwono III dari Kasunanan Surakarta/ Solo tetap memilih latar sogan dan cenderung gelap untuk kain batiknya.


Warna putih adalah warna dominan yang dapat kita lihat pada kain batik Yogya. Warna sogan cokelat kuning keemasan adalah warna dominan batik Solo.

Apabila batik Yogya tampil dalam warna gelap, maka warna gelap kebiruanlah yang akan dominan terlihat pada kain batiknya. Sedangkan Batik Solo akan tampil dalam warna hitam kecokelatan ketika tampil dalam warna gelap. Ini muncul sebagai akibat dari proses pencelupan warna biru berkali-kali yang didapatkan dari tanaman indigo.

Sedangkan warna hitam kecokelatan yang terdapat pada batik Solo merupakan hasil pencelupan berkali-kali warna cokelat sogan.

Ini adalah hal paling mendasar yang membedakan batik Yogya dan Solo. Warna sogan atau kuning cokelat keemasan tetap menjadi warna khas kedua batik ini.

Beberapa perbedaan juga terlihat bagaimana perajin batik Yogya dan Solo dalam memprodo — hiasan emas pada motif — batik mereka.

Membubuhkan prodo gaya Solo berbeda dengan gaya Yogya. Pada gaya Solo, yang dibubuhi prodo hanyalah garis luar (outline) corak dan sebagian isen-isennya. Sedangkan gaya Yogya, hampir seluruh corak dan isennya dilapisi prodo. Kesan yang ditampilkan pada prodo gaya Solo adalah lebih tenang dan anggun, sedangkan pada gaya Yogya lebih gagah dan menonjol.

Keduanya sama-sama indah kok. Karena batik sendiri merupakan karya seni yang mewakili jiwa seseorang yang memakainya. dan juga karakter serta watak pemakainya. Jadi, manakah yang anda suka?